Bangsa Indonesia itu sama seperti bangsa-bangsa lainnya di dunia, memiliki keanehan-keanehan.
Salah satu keanehannya adalah bahasa Indonesia.
Misalnya saja kata 'kaya', di mana dalam bahasa Inggris ada banyak kata untuk mengekspresikan keadaan 'kaya' tersebut. But let's say we pick up 2 of the most popular : 'rich' & 'wealthy'.
Saya pikir orang Inggris, orang-orang yang berbahasa Inggris, bisa menilai bahwa yang disebut kaya itu bukan hanya berdasarkan dari jumlah uang yang dimiliki. 'rich' is similar with 'wealthy' but not the same. Mungkin di sana, ketika seseorang disebut kaya, dia tidak perlu memiliki uang yang tak akan habis 7 turunan, rumah luas dan mewah, mobil-mobil yang sepertinya dipakai ke ke jalan itu sayang, pembantu atau pelayan yang selalu bilang 'yes sir/maam !', dan lain sebagainya.
Orang yang kaya, adalah orang yang mungkin tidak memiliki semua yang disebut di atas, tapi hidupnya cukup untuknya, atau mahkan berlebih sehingga dia bisa membaginya dengan orang lain.
Saya jadi berpikiran seperti ini setelah menonton video Pak Ahok di YouTube.
Dia bilang, (kurang lebih) orang yang memiliki banyak uang, harta benda tapi tidak pernah merasa memiliki apa-apa adalah orang miskin; sementara orang yang memiliki uang secukupnya, harta benda secukupnya atau bahkan tidak punya dibanding contoh pertama, tapi apabila dia merasa sudah memiliki segalanya maka dia adalah orang kaya.
Ada banyak hal yang bisa dimiliki oleh orang-orang dalam hidupnya : uang, keluarga dan sahabat, pengetahuan, pengalaman, apa lagi ya ?
Di Indonesia, kekayaan identik dengan uang. Dari sejak kecil, seorang anak disuruh sekolah untuk belajar matematika, bukan untuk belajar berhitung dan memecahkan masalah tapi agar tidak ditipu orang saat berdagang. Anak dituntut untuk menjadi ranking 1 karena agar CV nya terlihat bagus saat melamar kerja, bukan agar itu menjadi bukti bahwa dia telah menjadi seseorang yang berhasil menyerap ilmu sebaik-baiknya.
Ketika dia beranjak dewasa, dia mencari kerja di perusahaan yang ciri-cirinya memberi gaji sebesar-besarnya, bukan karena perusahaan tersebut adalah tempat di mana dia bisa menjalani fungsi sosialnya.
Siapa bilang ?! Siapa bilang kami hanya bekerja untuk mencari uang ?! Kalau kami tidak suka atau merasa cocok dengan pekerjaan atau perusahaan tersebut, pasti kami tidak akan bekerja di situ !
Banyak yang pasti langsung menjawab seperti itu.
Yah, jawaban standar, sama standarnya seperti set pertanyaan dan jawaban ketika melamar masuk ke suatu pekerjaan.
Bandingkan dengan orang-orang Jepang masa setelah perang dunia ke-2, di mana satu orang bisa bekerja di suatu perusahaan selama berbelas-belas tahun. Kemudian perusahaan memberi tunjangan pensiun pada orang tersebut. Di mana sebuah fungsi sosial dijalankan dengan ketekunan, hubungan yang tak patah arang dalam kesenangan dan kesedihan, dan penghargaan antara masing-masing pihak bahkan ketika tak bekerja sama di fungsi itu lagi.
Bodoh ! Bego ! Memangnya kalau ingin menjalani suatu fungsi sosial hanya bisa di perusahaan tersebut ? Di perusahaan lain juga bisa, dan bayarannya lebih besar pula ! Kalau bisa lebih kenapa harus kurang ?!
Tipikal. Money is everything.
Ketika menikah, upacara pernikahan dan pesta/resepsi luar biasa megah. Dengan dekor yang gila-gilaan, makin gila makin boros alias makin 'kaya'. Dengan makanan dan minuman yang tak boleh habis sebelum tamu-tamu pada pulang. Kalau habis ? Dasar pelit ! Dasar miskin ! Begitu umpatan orang-orang.
Kemudian ketika punya anak, sekolahkan di sekolah yang bagus ! Dan mahal ! Gengsi juga termasuk dalam perhitungan, bukan hanya kualitas sekolah tersebut.
Sudah agak besar, anak-anak perempuan pada umur 17 tahun, mengadakan pesta sweet seventeen yang saya sekarang sering salah sangka pesta pertunangan/pernikahan. Ckk ckk....
Sampai akhir hidup pun, orang-orang masih membandingkan kekayaan.
Saya tidak tahu sih kalau di suku/komunitas lain seperti apa. Tapi kalau di suku saya, orang 'kaya' ketika meninggal, jasad dia akan diarak beramai-ramai sampai mengganggu lalu lintas; Banyak tamu pelayat dari orang-orang 'kaya' lainnya; Upacara kematian pun hampir tak kalah dengan upacara pernikahan.
Yang diam-diam saja, itu orang 'miskin'.
Hmm...
Yah....
Fakta, bahwa banyak hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Banyak juga yang bisa.
Tanpa uang, sulit hidup di kota. Di hutan, orang bisa hidup seperti Tarzan, tak perlu uang.
Dan ketika semua orang, orang tua sendiri, siapapun berkata bahwa kaya itu = banyak uang. Dan miskin itu... hina atau dosa, mau bagaimana ? Harus bagaimana ?
Pak Ahok bilang, orang paling kaya itu orang yang isi kuburannya penuh harta benda, orang yang paling tidak bisa menikmati 'kekayaannya', karena dia sudah mati/keburu mati. Dan kalau saya tidak salah mengerti : Orang yang paling kaya adalah perampok kuburan, tanpa usaha sepanjang masa, dia bisa mendapatkan harta benda tersebut.
Tentu saja apa yang dibilang itu adalah satir, sindiran.
Hidup yang menyedihkan, eh, kematian yang menyedihkan maksudnya. Juga, kemiskinan akhlak.
Ah, galau....
Hari gene, bisa sehat setiap hari; bisa melihat keindahan matahari terbit dan terbenam; bisa berkumpul dengan kawan-kawan di rumah, hanya bertemankan segelas air putih dan mengobrol seperti tak akan ada hari esok; bisa bekerja sesuai passion/minat; bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari (benar-benar) secukupnya; itu semua hanyalah jadi hidup yang 'miskin'.
"Dasar bego !", umpat mereka.
No comments:
Post a Comment